=>

=>

Google Flag Translator(terjemahan)

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Mei 2016

IPNU: Rohis Jangan Satu-satunya di Sekolah

JAKARTA - Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mengkhawatirkan munculnya gerakan radikalisme keagamaan pelajar di sekolah-sekolah negeri melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) yang bernama Rohani Islam (Rohis) . Itu bila Rohis menjadi satu-satunya organisasi keagamaan di sekolah.
Ketua Umum IPNU, Ahmad Syauqi, mengemukakan hal itu dalam rakernas dan peringatan hari lahir ke-58 IPNU yang bertajuk Optimalisasi Peran IPNU terhadap Arah Kebijakan Pendidikan Nasional di Kampus UI Depok, Sabtu (6/3).IPNU juga khawatir, gerakan ideologi keagamaan itu menumbuhkan radikalisme keagamaan di kalangan pelajar. Karena itu,IPNU akan mendesak Ke-mendiknas agar rohis tidak dijadikan satu-satunya organisasi keagamaan di sekolah negeri setingkat sekolah menengah umum (SMU).
"Kami akan memberi usul kepada Muktamar NU di Makassar pada 22-27 Maret mendatang agar NU mendesak mendiknas untuk mengubah atau menghapus rohis yang selama ini dijadikan satu-satunya organisasi keagamaan di sekolah negeri itu," katanya.IPNU, katanya, sebagai kader NU akan mengawal gerakan keislaman yang moderat dan bukan radikal atau liberal, baik secara pemikiran, aksi, maupun ideologi yang meresahkan masyarakat.IPNU menilai, Muktamar ke-32 NU merupakan momentum penting bagi perlunya penyatuan persepsi dalam Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU), baik badan otonom (banom), lembaga, maupun organisasi taktis lainnya, untuk menyelamatkan generasi muda dan NU pada masa mendatang.
Pelarangan ormas pelajar, selain rohis tersebut, menurut Syauqi, sudah terjadi sejak dikeluarkan keputusan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdikbud tanggal 9 Juni tahun 1980 No 091/C/Kep/080 tentang Pola Pengembangan Siswa ditambah dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 0209/4/-1984 tentang Perbaikan Kurikulum di Sekolah Umum Tingkat Atas.Akibatnya, kebijakan itu menimbulkan fenomena radikalisme agama di sekolah (SMU) yang menekankan pada satu wadah organisasi bernama rohis yang berada di bawah OSIS.
Sementara itu, Ketua Majelis Alumni IPNU, Hilmi Muhammadiyah, menegaskan bahwa IPNU merupakan satu-satunya rekrutmen kader NU dan kini harus membuat program strategis sesuai visi dan misi NU."Pengenalan nilai-nilai Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) itu mesti dilakukan sejak di sekolah," katanya.Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) itu juga menyetujui bila Muktamar NU membahas kemungkinan IPNU menjadi organisasi ekstra-kurikuler di sekolah-sekolah di lingkungan LP Maarif dan bukan lagi OSIS. am

5 Tanda Orang Bertaqwa – Dari Tahajud & Tausiyah di Al Jabbar

JAKARTA – Akhir bulan lalu di Masjid Al Jabbar Jatibening Estate, kembali diadakan Tahajud & Muhasabah yang dipimpin oleh Ustadz Komaruddin Cholil dari Daarut Tauhiid Bandung. Kang Komar -begitu biasa kami menyapanya- adalah mantan Kepala Rombongan (Karom) Kelompok 3 Haji DT 1426H yang kami ikuti. Saat ini beliau masih aktif sebagai Kepala Divisi Pelatihan Yayasan Daarut Tauhiid Bandung.
Adalah suatu kebetulan yang menyenangkan ketika pertama kali mendengar kabar kang Komar diundang oleh pengurus taklim Masjid Al Jabbar untuk mengimami sholat Tahajud berjamaah dan memberikan tausiyah ba’da sholat subuh pada hari Sabtu terakhir tiap bulannya. Mengapa disebutkan kebetulan yang menyenangkan karena Masjid Al Jabbar terletak di seberang komplek perumahan kami dan kami pun awalnya tidak mengenal sama sekali dengan pengurus Masjid Al Jabbar tersebut. Jadilah kami anggota ‘sisipan’ majelis taklim tiap bulannya dan alhamdulillah para pengurus dan jamaah sangat membuka lebar tangannya untuk menyambut kehadiran diri ini di acara itu.

Sabtu kemarin, kang Komar ternyata menginap di Masjid Al Jabbar. Ini dikarenakan bulan lalu beliau absen karena terlambat bangun untuk pergi ke Bekasi. Maklum, kang Komar yang super sibuk ini tinggal di Bandung dan untuk pergi ke Bekasi minimal harus menempuh waktu 2 jam.
Ada yang sempat aku catat waktu menghadiri muhasabah dan tausiyah kang Komar sabtu kemarin. Salah satunya adalah 5 Tanda Orang Bertaqwa menurut Syaidinna Usman bin Affan:
  1. Tidak suka bergaul kecuali bergaul dengan orang-orang yang sholeh/sholehah, yang menjaga lisannya.
    Seperti penggalan lagu Tombo Ati, salah satunya adalah bergaul dengan orang-orang sholeh karena kita akan mendapatkan banyak dakwah, masukan, kritik yang membangun dan ketenangan bila mendapatkannya dari orang-orang yang hanya mengucap kebenaran.
  2. Jika mendapat musibah duniawi, ia menganggapnya sebagai ujian dari Allah SWT.
    Salah satu yang mengangkat diri kita di mata Allah adalah lulusnya kita dari ujian yang diberikanNya. Ujian bukan hanya yang bersifat bala musibah, namun kenikmatan dalam hidup ini adalah ujian yang lebih besar. Bila diberikan musibah orang lebih mudah ingat kepada Allah namun saat diberi ujian kenikmatan, saat itulah Allah benar-benar sedang menguji kita.
  3. Jika mendapat musibah dalam urusan agama ia akan sangat menyesalinya.
    Teringat cerita Syaidina Umar bin Khattab yang ketinggalan satu rakaat shalat Ashar di Masjid hanya karena beliau sedang asyik berada dalam kebun kurmanya. Mengetahui dirinya telah tertinggal satu rakaat dalam berjamaah, Syaidina Umar pun begitu menyesali perbuatannya sehingga kebun kurma yang dianggap sebagai penyebab musibah itu akhirnya dijual.
  4. Tidak suka memenuhi perutnya dengan makanan haram & tidak sampai kenyang.
    Ini merupakan manifestasi dari sabda Rasulullah yang berbunyi ‘Makanlah sebelum engkau lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang‘. Sungguh suatu perintah yang seakan-akan mudah dilaksanakan namun saat mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari betapa sulitnya melakukan hal itu. Dari sinilah bentuk ketakwaan seorang mukmin dibentuk.
  5. Apabila memandang orang lain, orang itu lebih sholeh dari dirinya. Tapi bila memandang diri sendiri, dirinya adalah orang yang penuh dosa.
    Nampaknya banyak diantara kita, apalagi yang telah diberikan hidayah dari Allah berupa kenikmatan dalam beribadah, kemudahan dalam bertahajud, keringanan dalam berpuasa sunah atau keindahan dalam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, mudah menganggap dirinya lebih sholeh dibanding lainnya. Padahal sikap merendah adalah salah satu yang dianjurkan oleh Rasul. Belajar tawadhu’ dan senantiasa melakukan amal ibadah tanpa membandingkan dengan orang lain adalah start yang baik untuk meningkatkan kualitas ketakwaan diri.
Sebelum mengakhiri tausiyah subuh kala itu, kang Komar juga memberitahukan ada 4 waktu yang tidak boleh disia-siakan, yaitu:
  • Waktu untuk bermunajat
    Setiap saat, bahkan saat mau tidur pun disunnahkan bertasbih, berzikir atau membaca Kalamullah. Bila kita tertidur saat kita sedang bermunajat, insya Allah kita dianggap sedang berdoa selama kita tidur, subhanallah.
  • Waktu untuk meminta maaf dan berterima kasih
    Tanpa pernah tahu kapan kepulangan kita ke Illahi Robbi, manfaatkan waktu yang ada untuk meminta maaf atas segala kesalahan kita dan berterima kasih kepada siapa-siapa yang telah membantu kita dalam hal apapun. Terutama bagi yang masih memiliki orang tua, sekarang juga kirim doa dan hubungi mereka, ucapkan maaf dan terima kasih atas segala yang telah mereka lakukan kepada kita.
  • Waktu untuk mengevaluasi diri
    Bertafakur, mengingat-ingat kembali dosa yang pernah dilakukan dan berjanji untuk tidak melakukannya kembali adalah perbuatan terpuji. Kadang dengan seringnya kita mengevaluasi diri kita, apa-apa yang menjadi kekurangan maupun kelebihan dalam hidup ini, dapat menjadikan modal yang berharga untuk masa depan.
  • Waktu untuk beramal sholeh
    Tidak perlu menunggu tanggal gajian, seberapapun yang kita miliki saat melihat ada yang sedang membutuhkan, mari ulurkan tangan. Allah akan melihat sekecil apapun amal ibadah kita dan akan menggantinya berlipat ganda apabila keikhlasan ada dibalik perbuatan kita membantu sesama.
Alhamdulillah, sepulangnya dari Al Jabbar, kang Komar bersedia meluangkan waktunya untuk mampir ke rumah kami. Namun kedatangan yang mendadak ini nampaknya kurang bisa diantisipasi oleh Utami yang kebetulan berhalangan untuk bertahajud di Al Jabbar. karom-di-rumah.jpg
Awalnya, aku menawari kang Komar untuk sarapan pagi. Beliau dan dua orang temannya pun mengikutiku pulang. Sampai di rumah, ternyata LPG sedang habis dan pagi itu tabung yang terisi ngadat pula tak mau menyala. Alhasil, kang Komar dan rombongan hanya menyeduh teh hangat dan snack ala kadarnya. Rencana untuk sarapan bersama pun buyar karena beliau harus segera kembali ke Bandung untuk mengisi jadwal kegiatan berikutnya.

Pelajar santri vs Pelajar kost


Ini mah bukan pertandingan bola atau futsal tetapi ini adalah perbandingankehidupan yanng dialami pelajar yang merantau dari daerahnya unuk menuntut ilmu sehingga au tidk mau mereka harus tinggal di ruamah singgah yang berupa pondok pesantren atau kost ,yang mana masing-masing tempat itu dapat mempengaruhi perilaku anak/pelajar yang menjalaninya

Nah dari sini lah penulis mau membahas perbedaan anak-anak yang tinggal di kost atau mondok baik dari segi tingkah laku maupun sisi lain dari kehidupannya,pertama kita awali dari  dunia kost-kost an,kebayakan anak yang tinggal di kost sering kali mendaoat respon negatif dari berbagai sudut pandang mengingat kost itu identik denga kebebasan padahal sebenarnya yang di maksud kebebasan adalah bukan bebas sebebasnya tetapi bebas terbatas tetapi kebanyakan pelajar kita yang tinggal di kost menganut  sistem bebas amblas,sehingga tanpa mereka sadari hal tersebut menjadi sorotan bagi masyarakat sekitar ,sehingga muncullah isu-isu miring dan cap negatif terhadap kost dan penghuninya
Tapi ada juga hal yang perlu diketahui bahwasannnya tidak semua insan yang tinggal dikost menyalah gunakan kebebassan dan kepercayaan yang diberikan oleh orang tua mereka,kita harus berpikir positif bahwasannya  ada juga penghuni kost yang mengaku “kami mempunyai tujuan dan tentunya ke arah positif ,dalam hal berinteraksi dimasyarakat,kami tinggal disini hanya karena kami ingin tempat tinggal kami dari sekolah itu  menjadi dekat ,kebiasaan buruk itukan ttergantung dari individu masing-masing ...iya kan?
Alternatif kedua selain kost adala pondok pesantren  yag mana didalamnyalebih terorganisir kegiatan-kegiatannya ,pondok biasanya memiliki sistem kepengurusan yang mengatur aktifitas santri mulai bangun tidur hingga mau tidur lagi ,sehingga banyak santri pondok mengakui bahwa pondok mempunyai  segudang  peraturan yang wajib dipenuhi  oleh seluruh santri pondok ,peraturan itu sangat sulit bahakan pantang dilangggar bila dilanggar maka si pelanggar harus  dihukum.
Namun tidak semua santri pondok itu pendiam ,baik ,dan taat peraturan ,namun ada juga yang bandel sehingga aturan pondok yang ekstra ketat itu dilanggarnya,bahkan  ada yang  berani melanggar peraturan vita pondok yakni tidak ikut ngaji kitab(diniyah)
Sanksi yang diberikan beragam dan tingkatan berbeda ,biasanaya untuk tingkat pertama  berupa peringatan ,kedua denda ,hukuman standart pondok (grujuk banyu peceren atau ro’an),ketiga  untuk santri putra digundul,keempat drop out
Ponpes memang memiliki jadwal  kegiatan pondok yang sangat padat ,mengaji al qur’an,latihan qiro’at .lalaran serta diiringi latihan khitobah(pidato)dan kegiatan ini menjadi konsumsi santri dan menjadi pekerjaannya sehari-hari bahkan terkadang sampai larut malam ,sehingga tak mengherankan kalau kebanyakan santri merasa nagantuk dikelas
Selain itu ternyata di pondok pesanren itu sistem kekerabatannya sangat kental karena mereka merasa satu jiwa satu r aga ,karena kebersamaan ,saling ketergantungan ,tolong menolong tidak membedakan satu sama lainnya ,mati urip bareng sehingga tali persaudaraan terbuang tanpa adanya dorongan dan paksaan dari manapun
Baiklah sobat,dari sini kita bisa megambil kesimpulan bahwa anak kost dan santri pondok tidaklah jauh beda ,Cuma dipondok kita lebih mendapat pendidikan  dan peraturan yang mengikat sehingga memungkinkan kehidupan kita lebih aman dan teratur pola kehidupan kita ,tetapi tidak sepenuhnya kost ibarat burung lepas  bebas mengepakkan sayapnya ,tetap ada juga yang mempunyai tujuan hidup,so semuanya tergantung individu masing-masing

Everytime is love


Menanggapi SMS dari  seorang rekan yang kemarin mengatakan bahwa tanggal 14 bukanlah hari kasih sayang,melainkan hari kematian seorang pastur yang bernama St.Valentinus yang sangat diagungkan oleh umat nasrani,maka dari itu  hari kasih sayang  atau biasa disebut hari valentine (14 Februari)  sebenarnya merupakan hari kasih sayang bagi umat nasrani,dan kita sebagai umat muslim tidak pantas merayakannya,memang benar SMS tersebut ,namun kenyataannya  kebanyakan dari umat muslim sendiri terutama kalangan remaja merayakannya karena menganggap hari valentine itu bersifat umum dan siapa saja bisa merayakannya tanpa pandang agama yang melatarbelakanginya.

Bahkan ada yang berkilah dengan mengatakan ini sebagai Ukhuwah islamiyah,padahal sebenarnya dalam islam tidaklah demikian ,tidak ada yang namanya valentine,semua hari yang ada adalah hari kasih sayang,karena kita masih bertemu dihari-hari berikutnya,ini berarti Allah memberikan rahmad dan Kasih sayang Nya kepada kita,hari-hari yang kita lewati penuh dengan rahmad Allah tinggal bagaimana aja kita melewati hari-hari tersebut.

Tak heran orang yang menyayangi Allah ,hari-harinya selalu di rahmati oleh Nya ,sehingga hari-harinya penuh dengan kebahagiaan .bisa dibayangkan seandainya kita hari kasih sayang itu hanya ada di hari valentine saja kita pasti hidup tidak tenang,karena yang ada hanyalah dendam semata.
ya jelas karena hari kaasih sayang itu cma satu hari berarti selebihnya adalah hari yang dipenuhi dendam.

Karena rahmad Nya lah kita bisa mencurahkan rasa kasih sayang kita ,setiap hari bahkan setiap waktu ,pasti kita akan disayangi oleh orang-orang disekitar kita.

Jadi kesimpulannya hari kasih sayang tidak hanya dihari valentine saja tetapi Every time is Love Day   alias kasih sayang yang sejati itu ada di setiap kehidupan kita....
So masihkah kita merayakan hari valentine?padahal itu hari raya kaum nasrani,
Ingat , Baginda  Nabi Besar SAW telah bersabda “barang siapa meniru suatu kaum ,maka ia termasuk golongan kaum tersebut.”
Maukah kalian di anggap termasuk golongan kaum non islam lantaran ikut merayakan hari besar mereka?
Choice is yours................

Senin, 16 Mei 2016

Sejarah IPPNU

Sejarah IPPNU

LATAR BELAKANG SEJARAH KELAHIRAN IPPNU
Bermula dari perbincangan ringan yang dilakukan oleh beberapa remaja putri yang tengah menuntut ilmu di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta, tentang keputusan Muktamar NU ke 20 di Surakarta. Maka perlu adanya organisasi pelajar di kalangan nandliyat.
Dalam keputusan ini dikalangan NU, Mulimat, Fatayat NU, GP Ansor dan Banom NU lainnya untuk membentuk tim resolusi IPNU putri pada Kongres I IPNU di Malang Jawa Timur, selanjutnya disepakati dalam pertemuan tersebut bahwa peserta putri yang akan hadir di kongres Malang di namakan IPNU putri.

Dalam suasana kongres ternyata keberadaan IPNU putri tampaknya masih diperdebatkan secara alot. Semula direncanakan secara administratif hanya menjadi departemen di dalam tubuh organisasi IPNU. Sementara hasil negosiasi dengan pengurus PP IPNU telah membentuk semacam kesan eksklusivitas IPNU hanya untuk pelajar putra. Melihat hasil tersebut maka pada hari kedua kongres, peserta putri yang hanya diwakili lima daerah (Yogyakarta, Surakarta, Malang, Lumajang dan Kediri) terus melakukan konsultasi dengan dua jajaran di pengurus badan otonom NU yang menangani pembinaan organisasi pelajar yaitu PB Ma’arif, (saat itu dipimpin bapak KH Syukri Ghazali) dan ketua PP Muslimat NU (Mahmudah Mawardi). Maka dari pembicaraan selama beberapa hari, telah membuat keputusan sbb:
Membentuk organisasi IPNU Putri secara organisatoris dan administratif terpisah dengan IPNU.
Tanggal 02 Maret 1955M / 08 Rajab 1374 H dideklarasikan sebagai hari kelahiran IPNU Putri.
Untuk menjalankan roda organisasi dan upaya pembentukan cabang selanjutnya ditetapkan sebagai ketua yaitu Umroh Mahfudhoh dan sekretarisnya bernama Syamsiyah Muthalib.
PP IPNU Putri berkedudukan di Surakarta Jawa Tengah.
Memberitahukan dan memohon pengesahan resolusi pendirian IPNU putri kepada PB Ma’arif NU, kemudian PB Ma’arif NU menyetujui dengan merubah nama IPNU putri menjadi IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama)
PERJALANAN IPPNU DARI MASA KE MASA
Sejalan dengan adanya pelaksanaan Kongres dari beberapa zaman (kemerdekaan, orla, orba, era reformasi) tentu mengalami berbagai peristiwa yang sangat menonjol dalam suatu keputusan Kongres, dan dalam perjalanan IPNU dari masa ke masa antara lain :
Bulan Februari 1956 diadakan konferensi IPPNU di Surakarta.
Tanggal 01-04 Januari 1957 pada Muktamar IPNU di Pekalongan IPPNU ikut serta.
Acara itu diisi olahraga dan jugs menghasilkan lambang IPNU-IPPNU.
Tanggal 14-17 Maret 1960 diadakan Konbes I di Yogyakarta, membicarakan tentang keorganisasian, kemahasiswaan, pendidikan Islam serta. bahasa Arab.
Tahun 1964 dilaksanakan Konbes III bersama IPNU di Pekalongan, dengan menghasilkan, Doktrin Pekalongan serta mengusulkan agar KH. Hasyim Asyari sebagai pahlawan.
Tanggal 30 Agustus 1966 dalam Kongres di Surabaya IPNU dan IPPNU memohon pada PB NU untuk menerimanya sebagai badan otonom.
Tahun 1967 pada Muktamar NU di Bandung, resmilah IPPNU dimasukkan dalam PD/PRT NU sebagai badan otonom sampai sekarang.
Pada perkembangan berikutnya nampak pemerintah juga tidak ingin mengambil resiko membiarkan dunia akademik terkontaminasi dengan unsur politik manapun, sehingga diberlakukan UU No. 8 tahun 1985 tentang keormasan khusus untuk organisasi ekstra pelajar adalah OSIS. Selama itu IPPNU mengalami stagnasi pengkaderan dan PP didominasi para aktivis yang usianya sudah melebihi batas. Maka pada kongres IX IPPNU di Jombang tahun 1987, secara singkat telah mempersiapkan perubahan asas organisasi dan IPPNU yang kepanjangannya Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul ‘Ulama telah berubah menjadi Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama.
Bulan Oktober 1990 pada Konbes IPPNU di Lampung, menghasilkan citra diri dan pemantapan PPOA IPPNU.
Pada Kongres X IPPNU tahun 1991 di Ponpes Al Wahdah Lasem Jawa, telah menguatkan independensi IPNU dan IPPNU yang merupakan organisasi terpisah.
Tanggal 10-14 Juli 1996 di Pesantren Al Musyaddidah Garut Jawa Barat mengadakan Kongres XI IPPNU, yang menekankan usia kepemudaan di tubuh IPNU supaya sejajar dengan organisasi pemuda lainnya.
Konbes bulan September 1998 di Jakarta, menghasilkan rekomendasi yang sangat menonjol di era reformasi yaitu bahwa IPPNU menyambut baik pendirian PKB yang tidak menggunakan nama NU.
Tanggal 22-25 Maret 2000, pelaksanaan kongres XII IPPNU di Ujung Pandang (Makassar), telah mendeklarasikan bahwa IPPNU akan dikembalikan ke basis kepelajaran dan wacana gender.
Tanggal 18-23 Juni 2003 kongres XIII IPPNU di asrama haji Sukolilo Surabaya mengembalikan IPPNU kepada Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.
AQIDAH, AZAS, FUNGSI DAN TUJUAN IPPNU
Aqidah
IPPNU beraqidah Islam menurut faham Ahlusunnah Wal Jama’ah dan mengikuti salah satu madzhab yaitu : Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. (Peraturan Dasar IPPNU BAB II pasal 4)
Asas
IPPNU berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hidmad Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Peraturan Dasar IPPNU BAB II pasal 5)
Fungsi
Di antara fungsi IPPNU adalah :
Wadah berhimpun pelajar putri Nahdlatul Ulama’ untuk melanjutkan nilai­-nilai dan cita-cita perjuangan NU.
Wadah komunikasi, interaksi dan integrasi pelajar putri Nahdlatul Ulama untuk menggalang Ukhuwah Islamiyah dan mengembangkan syiar Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
Wadah kaderisasi pelajar putri Nahdlatul Ulama untuk mempersiapkan kader-­kader bangsa.
Tujuan
Tujuan organisasi IPPNU adalah kesempurnaan kepribadian bagi pelajar putri Indonesia sehingga akan terbentuk pelajar putri Indonesia yang bertaqwa, berilmu, berakhlaqul mulia dan berwawasan berkebangsaan serta bertanggung jawab atas tegak dan terlaksananya syari’at Islam menurut faham Ahlusunnah wal Jama’ah. (Peraturan Dasar IPPNU BAB V pasal 9)
LAMBANG ORGANISASI DAN ARTINYA
Bentuk segitiga : Imam, Islam dan Ikhsan..
a. Warna dasar hijau : subur.
b. Garis warna kuning : khikmah yang tinggi / kejayaan.
c. Garis Putih : kesucian, kejernihan serta kebersihan.
d. Dua garis tepi mengapit warna kuning : dua kalimat syahadat.
Sembilan bintang : keluarga Nahdlatul ‘Ulama, yang diartikan,
Satu bintang besar paling atas : Nabi Muhammad SAW
Empat bintang sebelah kanan : empat sahabat Nabi (Abu Bakar as, Umar Ibn Khatab as, Usman Ibn Affan as dan Ali Ibn Abi Thalib as).
Empat bintang sebelah kiri : empat madzhab yang diikuti (Maliki, Hanafi, Syafi’I dan Hambali)
Dua Kitab : Al Qur’an dan Al Hadits.
Dua bulu bersilang : aktif menulis dan membaca untuk menambah wacana berfikir.
Dua bunga melati : perempuan yang dengan kebersihan pikiran dan kesucian hatinya memadukan dua unsure ilmu pengetahuan umum dan agama.
Lima titik di antara tulisan I.P.P.N.U. : rukun Islam
HUBUNGAN IPPNU DENGAN ORMAS LAIN
Kaitan IPPNU dan NU, bahwa IPPNU secara organisatoris merupakan badan otonom NU yang resmi tercantum dalam Anggaran Rumah Tangga NU pasal 27 poin 6 bagian f, hasil muktamar NU Lirboyo Jawa Timur yang mana bahwa IPPNU mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan badan otonom yang lain.
Hubungan IPPNU dengan IPNU, bahwa IPNU merupakan mitra kerja IPPNU, sedangkan hubungan IPPNU dengan ormas lain, bahwa IPPNU dengan IPNU dengan ormas lain yang tergabung dalam satu wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda (KNPI).

Sejarah IPNU

I. Sejarah lahirnya IPNU
Berawal dari ide para putra Nahdlatul Ulama, yakni pelajar dan santri pondok pesantren untuk mendirikan suatu kelompok atau perkumpulan .
• Pada tahun 1939 lahir PERSANO (Persatoean Santri Nahdlatoel Oelama).
• Pada tahun 1947 Lahir IMNU (Ikatan Murid Nahdlatul Ulama) di Malang.
• Pada tahun 1950 berdiri IMNU (Ikatan Mubaligh Nahdlatul Ulama di Semarang.
• PARPENO (Persatoean Pelajar Nahdlatoel Oelama) di Kediri.
• Di Bangil berdiri Ikatan Pelajar Islam Nahdlatul Ulama.
Namun organisasi-organisasi yang telah berdiri di atas masih berjuang sendiri-sendiri dan tidak mengenal di antara satu sama lain.
Bertitik tolak dari kenyataan tersebut, maka Almarhum Tholcha Mansyur (Malang), Sofyan Cholil (Jombang), H. Mustamal (Solo) bermusyawarah untuk mempersatukan organisasi-organisasi tersebut dalam satu wadah, satu nama dan satu faham dengan nama IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) saat berlangsung kongres LP Ma’arif di Semarang pada tanggal 24 Februari 1954/20 Jumadil akhir 1373 Hijriyah.
Pada kongres ke VI di Surabaya IPNU menjadi badan otonom NU (Nahdlatul Ulama). Sehingga IPNU Berhak mengatur rumah tangganya sendiri baik ke luar maupun ke dalam, tidak lagi tergantung kepada kebijakan LP Ma’arif.
Pada perkembangan selanjutnya IPNU berubah nama menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama saat kongres ke X di Jombang disebabkan organisasi pelajar yang diakui pemerintah hanya OSIS sebagai organisasi intra sekolah dan Pramuka sebagai organisasi ekstra sekolah. Sehingga ladang garap IPNU tidak hanya pelajar dan santri saja, tetapi juga pemuda, remaja dan mahasiswa.
Di dalam kongres XIV tanggal 18 – 24 Juni 2003 di Surabaya IPNU sepakat untuk kembali ke habitatnya semula dengan berganti nama menjadi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dengan orientasi pelajar, santri dan mahasiswa.
Lahirnya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dilatar belakangi oleh adanya kebutuhan wadah pengkaderan bagi generasi muda NU yang bersumber dari kalangan pesantren dan pendidikan umum, yang diharapkan dapat berkiprah di berbagai bidang, baik politik (kebangsaan), birokrasi, maupun bidang-bidang profesi lainnya. Pada awalnya embrio organisasi ini adalah berbagai organisasi atau asosiasi pelajar dan santri NU yang masih bersifat lokal dan parsial.
II. Tujuan Organisasi
Terbentuknya pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah swt., berilmu, berakhlaq mulia, dan berwawasan kebangsaan serta bertanggung jawab atas tegaknya syariat Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Di bidang pendidikan IPNU mempunyai tujuan:
• Untuk memelihara rasa persatuan dan kekeluargaan di antara pelajar umum, santri dan mahasiswa.
• Membina dan meningkatkan pendidikan dan kebudayaan Islam.
• Meningkatkan harkat masyarakat Indonesia yang berasusila dan mengabdi kepada agama, bangsa dan negara.
III. Trilogi IPNU
Konsep dasar perjuangan IPNU di masyarakat pelajar
Belajar – Berjuang – Bertaqwa


IV. Lambang Organisasi
Gambar Logo IPNU
Makna Logo
Warna dasar hijau tua: Subur
Bentuk bulatan: Kontinyu (berkesinam-bungan)
Lingkaran dasar putih Lingkaran tengah kuning: Hikmah dan cita-cita tinggi
Huruf IPNU putih: Suci
3 titik di antara singkatan IPNU: Islam, Iman, Ihsan
6 garis strip (kanan 3 dan kiri 3) putih: Suci
9 bintang kuning: Lambang NU
2 kitab putih: Al-Qur’an dan Al-Hadits
2 bulu angsa bersilang putih: Menuntut ilmu agama dan ilmu umum
5 sudut bintang: Rukun Islam
V. Citra Diri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama
Citra diri IPNU & IPPNU dilandasi oleh pokok-pokok pikiran bahwa manusia bertanggung jawab melaksanakan misi khalifah, yaitu memelihara, mengatur, dan memakmurkan bumi.
Makna dan fungsi manusia sebagai khalifah memiliki dua dimensi, yaitu dimensi sosial (horizontal) dan dimensi ilahiah (vertikal)
1. Sosial bermakna mengenal alam, memikirkannya, dan memanfaatkan alam demi kebaikan dan ketinggian derajat manusia sendiri.
2. Ilahiah yaitu mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hadapan Allah SWT.
Secara sosiologis manusia merupakan suatu komunitas yang memiliki nila-nilai kemanusiaan (moral, nilai sosial dan nilai keilmuan)
VI. Kondisi IPNU Sebelum Khitthah NU
IPNU telah melangkah menuju kemajuan dan kiprahnya telah diakui masyarakat. Namun pada perkembangannya tidak dapat mencapai puncak programnya, karena NU sebagai organisasi induknya pada saat itu masih terbawa arus politik sehingga ummat tidak menjadi perhatian utama.
VII. Kondisi IPNU Pasca Khitthah NU
Perkembangan pasca khittah NU dan Kongres Jombang sangat menggembi-rakan karena khittah mampu mencipatkan iklim yang kondusif bagi pengem-bangan organisasi.
Namun IPNU menyadari bahwa sumbangannya sendiri dan masyarakat luas belum banyak. Dan generasi muda sebagai tenaga potensial pembangunan nasional membutuhkan pembinaan, maka IPNU memandang mendesak adanya konsep Citra Diri IPNU dalam rangka meningkatkan keperansertaannya dalam pembangunan bangsa.
VIII. Hakikat IPNU
IPNU adalah wadah perjuangan pelajar NU untuk mensosialisasikan komitmen, nilai-nilai kebangsaan, keislaman, keilmuan, kekaderan, dan keterpelajaran dalam upaya penggalian dan pembinaan potensi sumberdaya anggota yang senantiasa mengamalkan kerja nyata demi tegaknya ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamah dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
IX. Orientasi IPNU
Orientasi IPNU berpijak pada kesemestaaan organisasi dan anggotanya untuk senantiasa menempatkan pergerakan pada zona keterpelajaran dengan kaidah belajar, berjuang dan bertaqwa yang bercorak dasar dengan wawasan kebangsaan, keislaman, keilmuan, kekaderan, dan keterpelajaran.
1. Wawasan Kebangsaan, adalah wawasan yang dijiwai oleh asas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan, yang mengakui kebhinnekaan sosial budaya, yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, hakikat dan martabat manusia, yang memiliki komitmen dan kepedulian terhadap nasib bangsa dan negara berlandaskan prinsip keadilan, persamaan, dan demokrasi.
2. Wawasan Keislaman, adalah wawasan yang menempatkan ajaran agama Islam sebagai sumber motivasi dan inspirasi dalam memberikan makna dan arah pembangunan manusia, sehingga IPNU dalam bermasyarakat bersikap:
• Tawasuth dan I’tidal yakni menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kejujuran, bersikap membangun dan menghindari tindakan dan kehendak dengan menggunakan kekuasaan dan kedhaliman,
• Tasamuh yaitu toleran terhadap perbedaan pendapat
• Tawazun yaitu seimbang dalam menjalin hubungan antara manusia dan Tuhannya, serta manusia dan lingkungannya.
• Amar Ma’ruf Nahi Mungkar yaitu memiliki kecenderungan untuk melaksanakan usaha perbaikan, serta mencegah kerusakan harkat manusia dan kerusakan lingkungan, mandiri, bebas, terbuka, dan bertanggung jawab, bersikap dan bertindak.
3. Wawasan Keilmuan, adalah wawasan yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mengembangkan kecerdasan anggota dan kader.
4. Wawasan Kekaderan, Wawasan yang menempatkan organisasi sebagai wadah untuk membina anggota agar menjadi kader-kader yang memiliki komitmen terhadap ideologi, cita-cita perjuangan organisasi, bertanggung jawab dalam mengembangkan dan membentengi organisasi. Membentuk pribadi yang menghayati dan mengamalkan ajaran islam ala Ahlussunah Wal Jama’ah, memiliki komitmen terhadap ilmu pengetahuian serta memiliki kemampuan teknis mengembangkan organisasai kepemimpinan, kemandirian dan kepopuleran.
5. Wawasan Keterpelajaran, adalah wawasan yang menempatkan organisasi dan anggota pada pementapan diri sebagai centre of excellence pemberdayaan sumbrer daya terdidik yang berilmu, berkeahlian dan visioner, memiliki strategi dan operasionalisasi yang berpihak kepada kebenaran, kejujuran serta amar ma’ruf nahi mungkar.
X. Posisi IPNU
a. Posisi Intern
IPNU sebagai perangkat dan badan otonom NU secara kelembagaan memiliki kedudukan yang sama dan sederajat dengan badan-badan otonom lain yaitu memiliki tugas utama melaksanakan kebijakan NU.
b. Posisi Ekstern
IPNU adalah bagian dari generasi muda Indonesia yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup bangsa dan negara Republik Indonesia dan merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya dan cita-cita perjuanagan Nahdlatul Ulama serta cita-cita bangsa Indonesia.
c. Fungsi
IPNU berfungsi sebagai:
• Wadah berhimpun pelejar NU untuk melanjutkan semangat, jiwa dan nilai-nilai Nahdliyah
• Wadah komunikasi pelajar NU untuk menggalang Ukhuwah Islamiyah dan mengembangkan syari’at Islam.
• Wadah kaderisasi pelajar NU untuk mempersiapkan kader-kader bangsa.
• Wadah aktualisasi pelajar NU dalam pelaksanaan dan pengembangan Syariat Islam
XI. Visi IPNU
Visi IPNU adalah terbentuknya putra putra bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlaq mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggung jawab atas tegak dan terlaksananya Syariat Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
XII. Misi IPNU
1. Menghimpun dan membina pelajar Nahdlatul Ulama dalam satu wadah organisasi IPNU
2. Mempersiapkan kader-kader intelektual sebagai penerus perjuangan bangsa
3. Mengusahakan tercapainya tujuan organisasi dengan menyusun landasan program perjuangan sesuai dengan perkembangan masyarakat (maslahah Al-Amah), guna terwujudnya Khaira Ummah
4. Mengusahakan jalinan komunikasi dan kerjasama program dengan pihak lain selama tidak merugikan organisasi
XIII. Struktur Organisasi IPNU
1. Pimpinan tertinggi IPNU di ibu kota Negara disebut Pimpinan Pusat IPNU (PP IPNU)
2. Pimpinan IPNU di provinsi disebut Pimpinan Wilayah IPNU (PW IPNU)
3. Pimpinan IPNU di kabupaten/kota disebut Pimpinan Cabang IPNU (PC IPNU)
4. Pimpinan IPNU di kecamatan disebut Pimpinan Anak Cabang IPNU (PAC IPNU)
5. Pimpinan IPNU di desa/kelurahan disebut Pimpinan Ranting IPNU (PR IPNU)
6. Pimpinan IPNU di Lembaga Pendidikan perguruan tinggi, pondok pesantren, SLTP/MTs, SLTA/MA dan yang sederajat disebut Pimpinan Komisariat IPNU (PK IPNU)
XIV. Alumni IPNU yang Menjadi “Orang Besar”
IPNU sebagai salah satu organisasi pelajar yang berskala nasional telah menumbuhkan berbagai tokoh-tokoh yang mempunyai peran penting dalam kemajuan Bangsa Indonesia, khususnya ummat Islam. Tokoh-tokoh tersebut antara lain:
1. Bapak KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
• Mantan ketua IPNU Komisariat PP Tambakberas Jombang
• Mantan Presiden RI
• Ketua Dewan Syuro PKB
2. Bapak Prof. Dr. KH. M. Tolhah Hasan (Singosari)
• Duduk sebagai Ketua cabang IPNU Malang ketika masih di bangku SLTP
• Mantan Menteri Agama (Kabinet Indonesia Bersatu-Era Gus Dur)
• Pernah menghadap Bupati Malang dengan hanya memakai celana pendek (seragam SLTP pada waktu itu)
3. Bapak Dr. KH. A. Hasyim Muzadi (Malang)
• Mantan Ketua Cabang Tuban
• Ketua Pengurus Besar NU sekarang di Jakarta
• Sekjen ICIS (International Conference of Islamic Scholars – Forum silaturahmi ulama & cendekiawan Islam sedunia)
4. Bapak Hamzah Haz
• Mantan ketua Pengurus Cabang NU Kutai
• Mantan Wakil Presiden RI
• Ketua Umum DPP PPP
5. Ida Fauziah
• Anggota DPR RI – sekarang
• Ketua PPKB pusat – sekarang
6. Khofifah Indar Parawansa
• Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan
• Ketua PP Muslimat NU – sekarang
• Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya.
I. Khatimah
Dengan berbagai pemaparan di atas, maka diharapkan generasi-generasi penerus IPNU & IPPNU dapat memahami organisasi IPNU & IPPNU sampai dengan permasalahan yang sekecil-kecilnya. Dengan pemahaman dan keteladanan dari tokoh-tokoh pendahulu IPNU & IPPNU, kita dapat menjadi penerus perjuangan yang benar-benar berjuang mewujudkan kejayaan ummat Islam, khususnya warga Nahdliyin Semua itu untuk mencapai satu tujuan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT sebagaimana motto IPNU & IPPNU “belajar, berjuang, dan bertaqwa”.
Cita-cita Kita:
“Terwujudnya pelajar-pelajar yang bertaqwa kepada Allah SWT,berilmu, inovatif, dan kreatif serta berguna dengan berdasarkan syariat Islam”

Template kop surat dan inventarisasi potensi kader IPPNU 2016

langsung aja di download disini
komplit...semuanya ada :)

Template Surat Menyurat dan administrasi terbaru IPNU 2016

ini adalah hasil diklat kemarin
bisa di download disini

Kutipan Teks Asli Hasil Kongres ippnu pertama tahun 1956 PART 1

Pokok 2 keputusan konferensi besar pertama
Ikatan Peladjar Puteri N.U. seluruh Indonesia
Di Solo
1. Status :Berdiri sendiri,dibawah pengawasan maarief N.U. dan Muslimat N.U.
2. Mengesahkan Lentjana (insigne)I.P.P.N.U.
3. Mengesahkan perobahan2 Redactioneel Anggaran dasar
4. Mengesahkan Anggaran Rumah Tangga
5. Mengesahkan pimpinan pusat jang berkedudukan di Solo ,jang terdiri dari:
Ketua Umum :Basjiroh Sjaimuri
Ketua I : Umroh Wahib Wahab
Sekdjen. : Sjamsijah Mutojib
6. Mengeluarkan resolusi2 kepada Maarief N.U. dan pemerintah
PEROBAHAN ANGGARAN DASAR
Fatsal 1:
Nama:Organisasi ini bernama Ikatan Peladjar Puteri Nahdlatul Ulama atau disingkat I.P.P.N.U.
Fatsal 2:
Dasar: Organisasi ini berdasar islam berhaluan salah satu dari madzhab empat(Chanafi,Maliki,Sjafii,Chambali)
Fatsal 3:
Tudjuan:Tegak dan berkembang nja agama Islam
Fatsal 4:
Usaha:1.Menjadarkan anggauta2nja dalam memperluas serta mengamalkan penetahuannja di sagala lapangan.2.mewudjudkan eratnja perhubungan peladjar 2 puteri Islam terutama dibawah bimbingan N.U.
Fatsal 5:
Keanggautaan:1.peladjar puteri di pesanteren2 dan madrasah Tsanawiyah /sekolah menengah keatas
Fatsal 6:
Pimpinan :ajat 2 dan 3 (Pimpinan daerah dan wilayah )dihapus
Fatsal 7:
Kepengurusan:
Fatsal 8:
Permusjawaratan :no 2 dan 3(konperensi wilajah dan daerah)dihapus
Fatsal 9:
Mu’tamar :Mu’tamar diadakan se-kurang2 nja 2 th sekali
Fatsal 10:
Keuangan :Bantuan serta usaha yang chalal serta tidak mengikat
Noot : keputusan ini adalah untuk merobah /menambah Anggaran Dasar jang telah disusun
Oleh Dewan Harian jang dimuat pada halamn 26 dan 27

KEPUTUSAN –LEPUTUSAN LAIN
1. Keolahragaan:
a. Tempat:tersendiri
b. Pakaian :Tjelana Pandjang berkaret dibawah ,di atas pakai blus jang pandjangnja sampai siku,warna putih
c. Matjam:Segala matjan olahraga asal tidak melampaui kekuatan wanita
2. Pakaian resmi
a. Dalam menghadliri upatjara resmi jang diadakan oleh kalangan N.U.diharuskan berkain
b. Dalam menghadliri upatjara 2 jang diadakan oleh kalangan lain diharapkan dengan sangat lagi hormat supaja sedapat mungkin berkain

3. Lentjana (berbentuk segitiga) dengan arti lambang
a. Segitiga berarti :Iman,Islam dan Ichsan
b. Bintang sembian(lambang N.U.) 4-Qur’an,Hadits,Ijma’,Qias
4-madzhab empat/sochabat
c. 2 Bulu 2 buku :Menuntuk Pengetahuan Agama dan Umum dengan actief membatja dan menulis
d. 2 bunga :Perpaduan antara Puteri2 Pondok /Pesanteren dengan Puteri2 peladjar Umum
4. Lain-lain
1. Menerbitkan Madjalah2,Risalah2dan lain2 guna mendjaga pendidikan rochani bagi para anggauta I.P.P.N.U. dan untuk memperluas Sjiar organisasi
2. Mengusahakan pengiriman peladjar2 N.U. keluar negeri Untuk memperdalam ilmu pengetahuannja
3. Mengusahakan berdirinja sekolah 2 chusus Agama

5. Resolusi-resolusi
a. Mendesak P.B.Maarief N.U.
1. Supaja mendirikan balai2 pendidikan /sekolahan2/pondok2 chusus puteri ,guna memperbanyak kader2 dan muballih 2 N.U.
2. Supaja mengadakan uni formiteit peladjaran dan pendidikan disekolah2 N.U.
3. Ditempat tertentu jang memperlukannja,hendaknja P.B.N.U. memberikan bantuannja guna mendirikan asrama2 untuk menampung peladjar2 N.U.dari luar daerah
b. Mendesak kepada pemerintah
1. Supaja mata peladjara agama disekolah2 negeri dijadikan mata – peladjaran pokok
2. Supaja menambah djam peladjaran untuk mata peladjaran agama
3. Supaja mendirikan tempat2 ibadah di sekolah2 negeri
4. Supaja benar2 mengadakan perpisahan antara peladjar2 putera dan puteri disekolah-sekolah
5. Supaja mengusahakan turunnja harga buku-buku
6. Supaja dihapuskan  voor-film jang tjabul

Template lengkap dan juknis Administrasi IPPNU 2016

ini adalah hasil diklat kemarin 14 mei 2016
download disini

Pembelajaran organisasi dan tipe kepemimpinan

                                                            Oleh :Bpk Yusuf Karomaini
                                                           Guru Sosiologi MAN 3 KEDIRI

Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini ,teknologi informasi telah menumbuhkan suatu ekonomi baru dimana pengolahan informasi dan pencarian ilmu dan teknologi telah menjadi sumber utama produktifitas.pada sistem ekonomi klasik sistem produktifitas dihasilkan melalui proses manajemen dan teknologi dan kombinasi sumberdaya alam,uang dan sumberdaya manusia
Sedangkan pada ekonomi baru ,produktifitas tumbuh dari mendidik tenaga kerja dalam memperoleh kecakapan baru berdasarkan pengetahuan baru.
Manajemen pengetahuan (knowledge management) ,modal intelektual(intelectual capital),dan pembelajaran organisasi (organizational learning)enjadi konsep baru dalam teori manajemen.
Dipenghujung abad 20 konsep manajemen pengetahuan dan pembelajaran organisasi tlah mejadi foks teori inti manajemen,pakar teori organisasi Ikka Toumi dalam bukunya “CORPORATE KNOWLEDGE”mengajukan teori integrasi manajemen pengetahuan sebagai model pecipta berdasarkan karya Ikujiro Nonaka yang memperkenalkan perusahaan pecipta pengetahuan (knowledge creating company)
Toumi dan Nonaka berpandangan bahwapengetahuan yang selalu diciptakan oleh individu-individu dapat dimunculkan dan diperluas oleh organisasi melalui interaksi sosial dimana pengetahuan tersirat(tacit knowledge) dapat diubah menjadi pengetahuan tersurat (explicit knowledge),oleh karena itu proses penciptaan organisasi harus dipahami sebagai proses
Penciptaan pengetahuan dalam organisasi harus dipahami sebagai proses yang secara organisasional memperkuat pengetahuan yang diciptakan oleh individu dan pebentukannya merupakan bagian dari jaringan pengetahuan organisasi.
Pembelajaran organisasi adalah fenomena sosial karena pengetahuan tersirat yang mendasari pengetahuan tersurat yang dihasilkan secara kolektif serta telah disadari oleh para pakar kognitif bahwa pengetahuan tersurat mempunyai dimensi sosial karena hakikat dan reflektif bersifat sosial.
Pemahaman sistemik tentang kehidupan dan kognitif memperjelas bahwa pembelajaran organisasi mempunya i aspek individual dan sosial.
Pemahaman tentang model penciptaan pengetahuan memiliki implikasi penting terhadap manajemen pengetahuan.memberlakukan pengetahuan suatu entitas yang berdiri sendiri terlepas dari orang atau konteks sosial tidak akan memperbaiki pembelajaran organisasi ,seperti yang dikatakan oleh Margareth Weathly dalam tulisanya yang berjudul “The Real Work Knowledge Management”bila kita ingin berhasil dengan manajemen pengetahuan maka kita harus mengurus dinaika dan kebutuhan manusia.
Pengetahuan bukan aset dan modal tetapi manusialah..
Pada suatu organisasi yang hidup ,penciptaan pengetahan terjadi secara alamiah. Berbagi pengetahuan antar kolega dalam organisasi merupakan hal yang manusiawi dan membahagiakan.
Seperti yang disampaikan oleh Weathly “bekerja bagi suatu organisasi yang sungguh-sungguh untuk menciptakan suatu pengetahuan adalah suatu motivator yang jitu ,bukan karena Organisasi yang lebih menguntungkan tetapi karena kehidupan kita akan terasa lebih bermakna ,
Pembelajaran oganisasi dan manajemen pengetahuan mensyaratkan pimpinan yang dapat memunculkan pembaharuan dan menciptakan kondisi dan memudakan memunculkan spontanitas yang kreatif sehingga memunculkan sesuatu yang baru sehingga dapat membangun jaringan-jaringan komunikasi yang aktif dan banya lingkaran umpan balik ,sifat keterbukaan akan memunculkan gagasan-gagasan baru dan spontanitas sehingga organisasi perlu terbuka pada setiap gagasan dan pengetahuan baru melalui budaya pembelajaran yang memfasilitasi dialog dan menghargai setiap pemikiran dan inovasi.
Yang dibutuhkan adalah pemimpin ‘pelatih”(choaching Leader)yanitu pemimpin yang mampu membimbing anggotanya secara tebuka dan merangsang anggotanya untuk mengeluarkan gagasan-gagasan yang kreatif melalui pendekatan yang merangsang partisipasi-partisipasi anggotanya.
Menciptakan suasana yang positif dan kompetitif dalam setiap anggota-anggotanya ,sehingga proses kreatif inovatif dapat dilakukan secara berkesinambungan.
Pemimpin perlu mempunyai visi kedepan serta dapat memprediksi dan memahami perubahan dan hasil gagasan spontanitas dan mengintegrasikan kedalam rancangan organisasi.
Tidak semua gagasan spontanitas dapat berlanjut serta dapat menciptakan perubahan-perubahan nyata ,oleh karena itu kebebasan bereksperimen sangat dianjurkan,kesalahan dapat ditoleransi dan pembelajaran dapat dinilai dengan keberhasilan.
Kekuasaan kolektif dilakukan melalui proses muncul nya struktur-struktur baru selalu merubah relasi kekuasaan melalui proses pemunculan spontanitas dalam komunitas.pemimpin yang memudahkan munculnya spontanitas dengan menggunakan kekuasaa untuk memberi kekuasaan pada yang lain sehingga memungkinkan adanya kekuasaan kepemimpinan yang tersebar.
Hal ini tidak berarti ditumbuhkannya kepemimpinan kolektif dengan beberapa individu memegang tampuk kepemimpinan tetapi ada bermacam-macam pemimpin yang mempunyai pandangan kearah kemajuan ,bila diperlukan memudahkan munculnya tahapan-tahapan kemunculan spontan.
Kebutuhan suatu tipe kepemimpinan diperlukan dan ditentukan secara situasional.pada situasi tertentu diperlukan adanya jaringan aau umpan balik formal an pada keranga lain diperlukan adanay suatu kerangka kerja yag kuat dengan tujuan serta pengaturan waktu yang pasti dalam menngorganisasian kegiatannya.
Pemimpin yang berpengalaman akan mampu mengevaluasi situasi yang terjadi ,bila diperlukan mampu memegang komando
Namun cukup fleksibel untuk melonggarkan dan melepaskannya .
Kecakapan ini memungkinkan adanya berbagai jalur yang tindakannya fleksibel tetapi pasti.